jump to navigation

kritik sanad hadis April 18, 2010

Posted by citra priski abadi in Chitaru.
trackback

PENDAHULUAN
Hadits Nabi merupakan sumber ajaran Islam, disamping al-Qur’an. Di lihat dari periwayatannya hadits berbeda dengan al-Qur’an. untuk al-Qur’an, semua periwayatanya berlangsung secara mutawatir, sedang untuk hadits, sebagian periwatannya berlangsung secara mutawattir dan sebagian lagi berlangsung ahad.
Hadits mengenal istilah shohih, hasan, bahkan ada mardud dan dhoif dan lainya yang hal itu berarti kita harus menolak/memperlakukan berbeda hadis itu, sedangkan dalam al-Qur’an tidak mengenal hal itu kerena al-Qur’an dari segi periwayatannya adalah mutawatir yang tidak lagi diragukan isinya, tetapi dalam kaitan hadits kita harus cermat, siapa yang meriwayatkan, bagaimana isinya dan bagaimana kualitasnya, kualitasnya dari hadis ini juga akan berpengaruh pada pengambilan hadits dalam pijakan hukum Islam.
Dari uraian diatas menyimpulkan al-Qur’an tidak lagi perlu dilakukan penelitian terhadap keasliannya, karena sudah tidak ada keraguan terhadapnya. sedangkan hadits perlu sikap kritis untuk menyikapi kehadirannya dengan diadakan penelitian, dari penelitian ini akan diketahui bahwa hadits ini memang benar dari Nabi Muhammad dan bukan hadits yang palsu. Penelitian ini bukan meragukan keseluruhan hadis Nabi tetapi lebih kepada kehati-hatian kita dalam pengambilan dasar hukum dalam agama. Inilah bukti bahwa kita benar-benar ingin mengikuti Nabi Muhammad dan menjalankan Islam sepenuhnya.
Dalam studi hadis persoalan sanad dan matn merupakan dua unsur yang penting yang menentukan keberadaan dan kualitas suatu hadis. Kedua unsur itu begitu penting artinya, dan antara yang satu dengan yang lainya saling berkaitan erat, sehingga kekosongan salah satunya akan berpegaruh, dan bahkan merusak eksistensi dan kualitas suatu hadis. Karenya suatu berita yang tidak memilki sanad tidak dapat disebut sebagai hadis; demikian sebaliknya matn. Dalam makalah ini kami hanya memfokuskan dalam pembahasan kritik hadis yang dilihat dari Pengertian Kritik Sanad Hadis, Kemunculan dan perkembangan Kritik Sanad Hadis: Survei History dan Kaedah kesahihan Sanad Hadis sebagai Standarisasi Kritik.
PEMBAHASAN
1. Pengertian Kritik Sanad Hadis
Berdasarkan pada terminologi kritik yang digunakan dalam ilmu hadis adalah kritik sanad adalah suatu penyeleksian yang ditekankan dan dimaksudkan pada aspek sanadnya. Sehingga menghasilkan istilah Sahih al-isnad dan Dha’if al-isnad.
1. Shihih al-isnad ialah seluruh jajaran perawi dalam suatu hadis berkualitas sahih, di samping juga adanya kebersambungan sanad, serta terbebas dari kerancuan(syadz) dan cacat(‘illat).
2. sedangkan Dha’if al-isnad adalah salah satu atau beberapa jajaran periwayatnya berkualitas dha’if atau bisa jadi karena tidak memenuhi criteria kesahihan isinya. Dengan demikian, bukan berarti bahwa hadis yang telah diberi level sahih al-isnad itu layak disandingi sahih al-matan, atau sebaliknya hadis yang telah dinilai dha’if al-isnad juga berarti dha’if al-matan.
Terdapat beberapa istilah yang secara umum telah dikenal dalam dunia ilmu hadis yang lahir dari masdar سند yakni kata اسند dan مسند , Dalam diskursus sanad ini terdapat beberapa dialektika yang digulirkan oleh para ulama, di antaranya adalah al-Qasimi menyatakan bahwa sanad dipahami sebagai penjelasan tentang suatu jalan yang yang dapat menyampaikan kepada kita materi hadis. Dengan demikian, sanad merupakan serangkaian perawi yang mentransmisikan hadis dari Rasullah sampai kepada mukharrij al-hadiih.Adapun kata musnad mengandung beberapa makna yang relative lebih luas cakupannya, yakni:
1. Musnad adalah hadis yang bersambung sanadnya dari pertama hingga terakhir dan disandarkan kepada Rasullah.
2. Musnad dipahami sebagai sebutan sebuah kitab hadis yang disusun berdasarkan nama sahabat.
3. Musnad juga sering disamakan maknanya dengan isnad, yang berarti dianggap ber-sighot mashdar.
Dalam konteks diatas bisa disimpulkan bahwa sanad dipahami dalam arti sebagai penjelasan tentang suatu jalan yang dapat menyampaikan kepada kita materi hadis ( al-ikhbar ‘an tariq al-matn atau tariq matn al-hadith).
Sebenarnya istilah sanad sudah lama muncul sebelum adanya hadis karena sejak sebelum kedatangan islam, sanad dipakai dalam kitab Yahudi, Misna, serta dipakai dalam transformasi puisi-puisi jahili dari tradisi Arab klasik. Meskipun demikian, sanad yang dipakai dalam tradisi tersebut belum begitu terlihat urgensinya. Sehingga sanad yang digunakan hanya bernilai sebagai keharusan sejarah belaka dan tidak memiliki ikatan khusus yang bermakna fungsional bagi sanad itu sendiri.Karena adanya perbedaan sanad yang dipakai orang islam dan selain orang islam maka para ulama banyak memberikan tanggapan tentang sanad seperti halnya. Di dalam riwayat lain,sebagai dinukil Abdullah, juga dinyatakan bahwa pemisah antara (umat islam) dengan kaum lainnya adalah sanad.Sedangkan komentar Sufyan al-Tsauri bahwa sanad itu merupakan senjata bagi mukmin, jika dia tidak memiliki senjata, maka dia akan dapat dibunuh dari mana saja.
Dari beberapa statemen di atas, dapat dinyatakan bahwa kritik sanad merupakan upaya kredibilitas seluruh jajaran perawi hadis dalam suatu jalur sanad, yang meliputi aspek kebersamaan(muttasil), kualitas pribadi dan kapasitas intelektual perawi, serta aspek syadz dan ‘illat-nya.
2. Kemunculan dan perkembangan Kritik Sanad Hadis: Survei History
a. Kritik Hadis di Masa Rasullah
Pada masa Rasullah kritik hadis dilaksanakan dengan cara sederhana yakni dengan langkah konfirmasi belaka karena kondisi yang memungkinkan untuk proses konfermasi, era ini sumber asli dari seluruh sandaran hadis masih hidup, yakni Rasullah sendiri.
b. Kritik Hadis di Era Sahabat dan Sahabat kecil(Shighar al-Shahabar)
Pada era ini kritik hadis dilakukan dengan tampilan yang bersifat komparatif seperti contoh kasus peristiwa yang terjadi di saat seorang nenek-nenek datang kepada Abu Bakar untuk mempermasalhkan warisan dari harta yang ditinggalkan cucunya. Menanggapi hal tersebut Abu Bakar berkomentar bahwa dia tidak pernah menemukan ketentuan tersebut dalam Al-Qur’an, sementara dia juga tidak pernah mendengar hadis Rasullah tentang hal tersebut.Untuk mencari solusi dari masalah tersebut,selanjutnya Abu Bakar mempertanyakan kepada para sahabat lainnya. Di saat itulah tampil Mughirah dengan mengatakan bahwa bagian nenek atas warisan cucunya adalah 1/6. Mendengar hal tersebut Abu Bakar tidak serta merta percaya kepada Mughirah. Beliau kemudian mengajukan persyaratan adanya saksi yang dapat mendukung kebenaran ucapan Mughirah tersebut. Disaat itulah Muhammad ibn Maslamah memberikan kesaksiannya. Berkat kesaksian tersebut Abu Bakar menerima riwayat tersebut.
c. Kritik Hadis Era Tabi’in dan ‘Atba al-Tabi’in hingga kodifikasi Hadis(Ahad II-III H.)

3. Kaedah kesahihan Sanad Hadis sebagai Standarisasi Kritik
Dalam penilitian atau kritik hadis diorientasikan kepada hadis yang tergolong pada klasifikasi ahad dan tidak pada yang mutawatir Karena hadis mutawatir itu telah memberikan akurasi yang pasti (yufid al-qath). Mengingat jumlah hadis ahad lebih banyak dari pada hadis mutawatir sehingga perlunya adanya pembuktian ke valid atau tidak validnya suatu hadis. Sehingga muncullah 3 kategori hadis ahad yakni sahih,hasan dan dha’if yang awalnya hanya memiliki 2 klasifikasi yaitu sahih dan dha’if.
a. Apek kebersambungan Sanad
Dalam konsep kebersambungan Sanad para ulama memiliki pandangan yang berbeda-beda seperti yang digulirkan oleh al-Bukhori yakni sanad baru diklaim bersambung apabila memenuhi 2 kriteria yakni al-Liqa’ dan al-Mu’asharah.
1. Al-Liqa’ yaitu adanya pertautan langsung antara satu perawi dengan perawi berikutnya, yang ditandai dengan adanya sebuah aksi pertemuan antara murid yang mendengar secara langsung suatu hadis dari gurunya.
2. Dan al-Mu’asharah bahwa sanad diklaim berhubungan apabila terjadi persamaan masa hidup antara guru dengan muridnya.
Sedangkan bagi muslim,hal tersebut agak memperlonggar persyaratan ittishal sanad tersebut. Bagi muslim sebuah sanad dikatakan telah bersambung apabila antara satu perawi dengan perawi yang berikutnya begitu seterusnya adanya kemungkinan bertemu karena keduanya hidup dalam kurun waktu yang sama sementara tempat tinggal mereka tidaklah terlalu jauh bila diukur dengan kondisi saat ini. Sehingga Muslim menekankan ittishal hadis hanya pada aspek al-mu’ashahah.
1. Lambang- lambang Metode Periwayatan Hadis
Terdapat dua kegiatan dalam periwayatan hadis, yakni kegiatan menerima hadis di satu sisi dan kegiatan menyampaikan hadis pada sisi lain.Kegiatan yang pertama melahirkan masalah saat atau mulai kapan seseorang dipandang layak untuk menerima hadis. Polemik mengenai permasalan ini dipicu dengan adanya Lower Limit(batas bawah) usia atau kondisi fisik penerima hadis, agar hadis yang disampaikan kepada orang lain dan dapat diterima.untuk mengatasi polemic ini maka muncullah beberapa metode yang dapat ditempuh dalam rangka menyransmisikan hadis. Mayoritas para ulama telah menetapkan delapan cara yang bisa dilakukan seseorang dalam menerima hadis baik era sahabat maupun pada masa-masa berikutnya. Delapan metode periwayatan tersebut adalah:
a. Al-sima’,yakni cara penyebaran hadis yang dilakukan dengan cara seorang murid mendengarkan bacaan atau kata-kata dari gurunya. Lambang-lambang yang menggambarkan metode ini adalah: sami’na, haddathani yang disingkat dengan thani dan dathani sami’tu, haddathana yang disingkat thana, na, dana, dan akhbarana disingkat dengan ana, rana, akha, ara, dan abana. Sedangkan lambang yang tidak disepakati penggunaannya adalah qala lana dan dzakara lana.
b. Al-qira’ah, dalam terminologi tahammul al-hadith sebagai sebuah metode periwayatan hadis yang dilakukan dengan cara seorang murid membacakan tulisan atau hafalan hadis kepada gurunya. Metode tersebut oleh mayoritas ulama hadis sering disebut dengan istilah al-ardh.
Lambang periwayatan yang mencerminkan metode al-qira’ah yang disepakati adalah lafadz qara’tu ‘ala fulan atau qara’tu ‘ala fulan wa asma’ fa aqarra bih. Sedangkan lafadz yang tidak disepakati penggunaanya untuk lambang metode al-qira’ah adalah: sami’tu haddathana, akhbarana, qala lana dan dzakaralana.
c. Al-ijazah didefinisikansebagai suatu metode penyebaran hadis yang dilakukan dengan cara seorang guru mengizinkan muridnya untuk mengajarkan atau meriwayatkan hadis, baik melalui lafadz (bacaan) maupun tulisannya, misalnya ungkapan seorang guru kepada seorang muridnya: “Aku izinkan engkau meriwayatkan sahih al-Bukhari.”
d. Al-munawalah
Metode ini didefinisikan sebagai metode periwayatan hadis yang dilakukan dengan cara seorang guru menyerahkan kitab atau lembaran catatan hadis kepada muridnya, agar diriwayatkannya dengan sanadnya darinya (guru tersebut). Periwayatan dengan metode al-munawalah ini ada dua macam: pertama, al-munawalah yang disertai dengan al-ijazah yang kemudian untuk kongkretnya adalah seorang guru menyerahkan kitabnya kepada muridnya, namun juga ada pernyataan agar hadis-hadis yang termuat di dalam kitab tersebut diriwayatkan, seperti ungkapan seorang guru: “ini adalah (hadis) riwayat dari si fulan, maka riwayatkanlah (hadis-hadis tersebut) dengan sanad dariku.” Kedua, al-munawalah yang tidak disertai ijazah, seperti ungkapan seorang guru tatkala menyerahkan tulisannya kepada muridnya sambil berkata: “Ini adalah (hadis) riwayatku.” Para ulama menerima tipologi pertama karena di dalamnya disebutkan dengan jelas akan kerelaan guru jika hadis yang diberikan kepada muridnya itu untuk diriwayatkan lagi.
e. Al-mukatabah adalah metode periwayatan hadis yang dilakukan dengan cara seorang guru menuliskan hadisnya yang kemudian diberikan kepada muridnya, baik yang hadir maupun yang tidak hadir. Metode periwayatan ini biasanya digambarkan dengan sighat al-ada’ kataba alayya fulan, akhabarani bihi mukatabah dan akhabarani bihi kitabah. Terdapat dua model dalam model ini: pertama, metode menuliskan hadis yang kemudian diikuti dengan ungkapan ijazah agar hadis tersebut diriwayatkan oleh murid yang dituliskan tersebut; kedua, ketode al-mukatabah namun tidak diikuti dengan ungkapan ijazah.
f. Al-i’lam
Al-i’lam diformulasikan secara definitif dalam hadis sebagai sebuah cara penyebaran hadis yang ditempuh dengan cara seorang guru mengumumkan atau memberitahukan kepada muridnya bahwa ia telah mendengar suatu hadis atau kitab hadis, namun informasi tersebut tidak disusul kemudian dengan ungkapan agar hadis/kitab hadis yang telah didengarnya tersebut diriwayatkan oleh muridnya. Menanggapi metode ini, para ulama ada yang tidak membenarkannya dan ada yang cenderung menerimanya. Metode ini menggunakan lambang periwayatan dengan ungkapan akhbaya i’laman.
g. Al-Washiyyah, merupakan salah satu bentuk periwayatan hadis yang dilakukan dengan cara seorang guru berwasiat kepada seseorang ketika ia meninggal atau sedang bepergian, agar hadis dan kitab hadis yang telah ia riwayatkan itu diserahkan kepada muridnya. Metode inimenggunakan sighat awsha ilayya.
h. Al-wijadah
Pemahaman yang didapatkan dengan formulasi periwayatan bentuk al-wijadah ini adalah seorang murid menemukan tulisan hadis yang diriwayatkan oleh gurunya. Mengenai bobot akurasi metode periwayatan tersebut mayoritas para ulama tidak membolehkan, meskipun terdapat pula sebagian yang memperbolehkan bentuk periwayatan hadis dengan metode tersebut. Metode ini menggunakan sighat wajadtu bi khaththi fula, haddatsana fulan, wajadtu fi kitab fulan bikhaththih, hahhathana fulan, wajadtu ‘an fulan, balaghani ‘an fulan dan lain-lain.
2) Hubungan Perawi dengan Metode Periwayatan yang digunakan
Kondisi perawi hadis yang berkaitan dengan kualitas pribadinya, dalam terminologi ilmu hadis dikaji dalam diskursus ‘adalah. Sedangakan kondisi perawi hadis yang berkenaan dengan kapasitas intelektualnya disebut dalam kajian dhabit. Seorang perawi yang dalam dirinya terkumpul sifat ‘adalah dan dhawabit ini disebut sebagai perawi yang thiqah, dan sebaliknya perawi yang di dalam dirinya tidak terkumpul kedua sifat tersebut dinilai ghar thiqah.
b Aspek Keadilan Perawi
Term ‘adalah (adil) secara etimologi berarti pertengahan, lurus, condong kepada kebenaran. Al-Hakim dan al-Naisaburi menyatakan bahwa ‘adalah seorang muhaddith dipahami sebagai seorang muslim, tidak berbuat bid’ah dan maksiat yang dapat meruntuhkan moralitasnya. Ibn Shalah berpendapat bahwa seorang perawi disebut memiliki sifat adil jika dia seorang yang muslim, baligh, berakal, memiliki moralitas (muru’ah) dan tidak berbuat fasik.
Muslim adalah unsur utama yang terkandung dalam cakupan makna adil, diharuskan bagi seseorang yang menyampaikan riwayat hadis. Sedangkan bagi kegiatan menerima hadis tidak diisyaratkan. Oleh karena itu, orang kafir pun diperbolehkan menerima suatu hadis.
c Aspek Intelektualitas Perawi
Aspek intelektualitas (dhabit) perawi yang dikenal dalam ilmu hadis dipahami sebagai kapasitas kecerdasan perawi hadis. Istilah dhabit ini secara etimologi memiliki arti menjaga sesuatu. Aspek tersebut merupakan salah satu dari sekian persyaratan asasi yang harus ada pada seorang perawi hadis, untuk bisa diterima riwayat yang disampaikan.
Seorang perawi layak disebut dhabit apabila memiliki sifat-sifat sebagai berikut: pertama, perawi itu memahami dengan baik riwayat yang telah didengar dan diterimanya; kedua, perawi itu hafal dengan baik atau mencatat dengan baik riwayat yang telah didengarnya (diterimanya); ketiga, perawi itu mampu menyampaikan riwayat hadis yang telah didengarnya dengan baik, kapanpun diperlukan, terutama hingga saat perawi tersebut menyampaikan riwayat hadisnya kepada orang lain.
Ada dua term yang biasa digunakan menyangkut dhabit ini, yang kemudian melambangkan tipologinya, yakni dhabt (dhabit biasa) dan tamm al-dhabt (dhabit sempurna). Kedua bentuk kedhabitan tersebut jika dinilai bobot kualifikasinya maka dhabt tamm itulah yang lebih bisa dijadikan jaminan bahwa kesahihan hadis yang bersangkutan lebih unggul dibandingkan dhabit biasa seperti bentuk pertama.

d Terhindar dari Syudzudz a
Dalam terminologi ilmu hadis, terdapat pendapat berkenaan dengan definisi syadz, yakni: pertama, pendapat yang dimajukan al-Syafi’i, yang mengatakan bahwa hadis baru dinyatakan mengandung syadz bila hadis yang diriwayatkan oleh seorang perawi thiqah bertentangan dengan hadis yang diriwayatkan oleh sejumlah perawi yang juga bersifat thiqah. Dengan demikian, hadis shadz itu tidaklah disebabkan oleh kesendirian individu perawi dalam sanad hadis (fard mutlaq), dan juga tidak disebabkan perawi yang tidak thiqah; kedua,pendapat yang dikemukakan oleh al-Hafidz Abu Ya’la al-Khalili. Bagi al-Khalili, sebuah hadis dinyatakan mengandung shadz apabila hanya memiliki satu jalur saja, baik hadis tersebut diriwayatkan oleh perawi yang thiqah maupun yang tidak, baik bertentangan atau tidak. Dengan demikian, hadis syadz bagi al-Khalili sama dengan hadis yang berstatus fard mutlaq itu tidak memiliki shahid, yang memunculkan kesan bahwa perawinya syadz, bahkan matruk.
e. terhindar dari ‘illat

1. Sanad tersebut secara lahir tampak sahih,namun ternyata di dalamnya terdapat seorang perawi yang tidak mendengar sendiri (dari gurunya) akan hadis yang diriwayatkannya tadi. Contoh hadis yang diriwayatkan oleh Musa ibnu Uqbah dari Suhail ibn Abi Shalih dari ayahnya dari Abu Hurairah dari Nabi SAW. Bersabda:
لا اله الا انت استغفرك سبحانك اللهم وبحمدك واتوب اليك الاغفرله ما كان فى مجلسة ذلك
Al-Bukhori mengomentari hadis tersebut sebagai hadis yang cacat, karena ternyata Musa ibn ‘Uqbah tidak mendengar sendiri hadis tersebut dari Suhail. Dengan demikian sanadnya terputus antara Musa dan Suhail tersebut.
2. Sanad hadis tersebut mursal dari seorang rawi yang thiqah dan hafizh, padahal secara lahir Nampak sahih.Contoh hadis yang diriwyatkan oleh Qubaishah ibn ‘uqbah dari Sufyan dari Khalid al-Hadza dan ‘Ashim dari Abu Qilabah dari Anas yang diriwayatkan secara marfu’:
ارهم امتى ابو بكر واشدهم فى دين الله عمر واصدقهم حيأ عثمان واقرؤهم ابي بن كعب واعلمهم بالحلال والحرام ومعاذ بن جبل وان لكل امة امينا وان امين هذا الآمة ابو عبيدة.
3. Hadis tersebut mahfudh dari sahabat, di mana sahabat ini meriwayatkan dari perawi yang berlainan negeri. Seperti hadis yang diriwayatkan oleh ulama’ Madinah dari ulama Kufah. Sebagai contoh adalah hadis yang diriwayatkan oleh Musa ibn Uqbah dari Abu Ishak dari Abu Burdah dari ayahnya secara marfu’:
انى لآسغفر الله واتوب اليه فى اليوم مائة مرة
Menurut al-Hakim, jika orang madinah meriwayatkan hadis dari ulama kufah, maka hadisnya dihukumi terbuang. Hal tersebut kemungkinan disebabkan oleh perbedaan negeri itu sangat memungkinkan tidak adanya pertemuan langsung di antara mereka,meski di satu sisi rihlah ilmiah pencarian sedang gencar-gencarnya dilaksanakan era itu
KESIMPULAN
Para ulama Hadis sesungguhnya telah memiliki teori-teori sanad yang cukup ketat. Sanad sebagai mata rantai periwayatan merupakan asas utama dalam menentukan kualitas sebuah hadis. Umat terdahulu tidak memiliki sistem ini, sehingga otentisitas kitab samawi dan ajaran para Nabi mereka tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya sekarang ini . Bahkan Imam Muslim meriwayatkan dalam Muqaddimah al-Shahih, bahwa al-Imam cAbd Allah bin Mubarak (w.181 H) berkata: “Sistem sanad merupakan sebagian dari agama Islam, tanpa ada sistem sanad, setiap orang dapat mengatakan apa yang dikehendakinya” . Sementara al-Imam al-Tsaury mengatakan: “Sistem sanad merupakan senjata bagi kaum muslimin”.
Kaidah keshahihan sanad hadis yang ditetapkan ulama tidaklah seragam. Akan tetapi ada kaidah-kaidah yang disepakati oleh ulama hadis dan masih terjadi sampai sekarang. Berdasarkan kaidah tersebut, sebuah sanad hadis barulah dinyatakan shahih apabila :
a) Sanad hadis bersambung (muttasil) dari awal sanad hingga ke Nabi (marfu’).
b) Seluruh perawi hadis bersifat adil, yakni: beragama Islam, mukallaf, melaksanakan ketentuan agama Islam, dan menjaga maruah.
c) Seluruh perawi bersifat dabit, yakni: terpelihara hafalannya jika meriwayatkan hadis dari hafalannya, atau terpelihara catatannya jika ia meriwayatkan dari kitabnya), dan mampu meriwayatkan hadis ada kesalahan. Perawi yang mempunyai sifat cadil dan dabit disebut sebagai tsiqah.
d)Sanad hadis terhindar dari syudzudz, yaitu tidak terdapat kontradiksi apapun dengan riwayat tsiqah atau riwayat yang lebih tsiqah darinya atau riwayat yang lebih banyak jumlahnya. Sanad hadis yang terhindar dari shadz disebut juga sanad mahfudz.
e) Sanad hadis terhindar dari illah, yakni: (1) tidak terjadi kesalahan penilaian tsiqah terhadap perawi yang sesungguhnya tidak tsiqah, dan (2) tidak terjadi kesalahan penetapan sanad yang tersambung. Illah baru dapat ditemukan dalam periwayatan tunggal seorang perawi (hadits gharib) dan adanya pertentangan dengan perawi lain yang lebih tinggi taraf kedabitan dan pengetahuannya. Illah secara umum terdapat dalam sanad, tetapi tidak jarang pula terjadi di dalam matan hadis.
Referensi:
Sumbulah,Umi.M.Ag, Kritik Hadis pendekatan Historis Metodologis.UIN-Malang Press. Jln. Gajayana 50 Malang. 2008.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: