jump to navigation

Pertanyaan untuk Cinta November 4, 2010

Posted by citra priski abadi in Chitaru.
trackback

Mahasiswa duduk di lantai membaca buku sastra. Di dekatnya seorang teman sedang membaca puisi agak keras. Dengan sinar wajah optimis.

“Kamu percaya dengan suara hati?” tanya mahasiswa.
“Engga,” jawab teman.
“Kenapa?”
“Karena sangat sulit membedakan, mana suara hati dan mana yang bukan.”
“Pengecut kamu! Hanya karena mengalami kesulitan kamu menyerah!”
“E… jangan salah. Ini bukan masalah pengecut atau tidak pengecut.”
“Lalu…”
“Mempercayai suara hati, butuh waktu yang panjang untuk membuktikannya. Bahkan bisa jadi apa yang kita percaya itu salah. Aku lebih memilih untuk menggunakan otak dari pada hati. Yang kamu ingin bicarakan pasti tentang cewek kan?”

Mahasiswa tersenyum kecil, sampai senyumnya hilang, dan diam mencoba memahami sudut pandang temannya.

“Perjumpaan dengan seseorang, menurutmu takdir atau kebetulan belaka?” mahasiswa kembali bertanya.
“Bisa takdir, bisa kebetulan. Terserah yang mengalami, apakah dia percaya itu takdir atau kebetulan. Yang percaya itu takdir, malah kadang setelah pertemuan itu ngga terjadi apa-apa. Tapi ada juga orang yang menganggap itu hanya kebetulan, setelah itu mereka menjadi sepasang kekasih,” jawab panjang teman.

Mahasiswa terdiam lama, menutup muka dengan dua telapak tangan. Beberapa saat dia menurunkan tangan dari mukanya.

“Hidup memang penuh dengan rahasia. Mungkin benar, hidup ini seperti permainan tebak angka. Kita tidak tahu angka apa yang akan keluar, tapi kita harus menebak, karena hidup terus berjalan. Namun, kisah hidup seseorang tidak harus selalu sama bukan?” papar mahasiswa
“Iya, cerita hidup memang tidak harus sama. Tapi beranikah kita untuk mengambil jalan yang berbeda. Di mal atau pusat keramaian lainnya, kita melihat orang-orang berpakaian dengan model pakaian yang sama, bentuk rambut yang sama, gaya hidup yang sama. Di dunia seperti itu, orang yang berbeda akan dianggap ketinggalan jaman. Dan orang yang kamu cintai adalah orang yang seperti itu,” tegas teman

Mahasiswa tampak berpikir

“Ini memang keadaan yang sulit buatku,” ungkap mahasiswa singkat.

Teman tetap diam, mengerti apa yang sedang dialami mahasiswa. Keduanya diam. Mahasiswa kembali membaca buku.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: